Tuesday, August 28, 2012

Pretty Receptionist Ellen: The Naughty Punishment


Namaku Ellen, aku bekerja sebagai receptionist di sebuah perusahaan di kota ini, untuk membiayai kuliahku di sebuah akademi sekertaris. Dengan struktur organisasi yang kecil di kantorku, dan masa kerjaku yang lebih dari setahun membuat tugasku menjadi lebih dari sekedar receptionist saja, aku di ditugasi oleh bossku untuk memegang sejumlah uang untuk biaya-biaya rutin kantor, tapi kemudian aku tergoda untuk menggunakan uang kantor tersebut untuk keperluan pribadiku, meski awalnya hanya sedikit, lama-kelamaan aku mengambil uang tersebut dalam jumlah yang cukup besar, dan bila di hitung-hitung total keseluruhan uang yang aku pakai cukup besar juga untuk ukuran seorang receptionist. Uang kantor yang aku pakai bisa mencapai 40 tahun gajiku sebagai receptionist. Awalnya bossku tidak mengetahui semua itu, karena aku cukup rapi dalam mengelola uang tersebut, tapi lama kelamaan sepertinya ia curiga juga, bossku adalah seorang wanita karier yang masih tetap melajang meski usianya sudah mendekati kepala 4.
Watak dan sikapnya sehari-hari cukup tegas sebagai seorang wanita. Tubuhnya juga sangat terawat, kebiasaan beliau setiap pagi waktu datang kantornya di lantai 4 adalah menggunakan tangga dengan sedikit berlari, meski ada lift di gedung ini. Tujuannya adalah untuk menjaga staminanya tetap fit, begitu katanya sewaktu aku tanya tentang kebiasannya itu. Ternyata bossku yang bernama Ibu Jessica telah mencurigai aku menggelapkan sejumlah uang untuk pengeluaran biaya kantor, sehingga tanpa

Pesta Seks Dengan Mantan Pacar - 2

Hunjaman penis suaminya kulihat semakin hebat sebab Anna semakin kuat menciumi dan menjilati bahkan menelan penisku hingga masuk seluruhnya ke dalam mulutnya. Kurasakan kepala penisku menekan ujung tenggorokannya, tapi Anna tidak peduli, air ludahnya menetes di sela-sela bibirnya yang tak kenal lelah menelan penisku. Bahkan ketika seluruh penisku ia telan, lidahnya mengait-ngait lubang kencingku, rasanya agak panas, tapi geli bercampur nikmat. Aku ikut merintih tanpa kusadari. Kini desahan dan erangan kami bertiga sudah melampaui adegan di film yang sudah tak kami hiraukan lagi. Sekilas sempat kulihat adegan di video memperlihatkan pergantian adegan dari adegan si perempuan Asia berjongkok di atas pinggang si pria Amerika Latin memasuk-keluarkan penisnya sambil menggelomoh penis si pria bule. Kemudian si pria bule menempatkan diri di belakang si perempuan dan memasukkan penisnya ke dalam anal si perempuan sambil kedua tangannya meremas payudara si perempuan. Dari bahwa, si pria Amerika Latin menciumi bibir si perempuan. Rintihan si perempuan bertambah kuat sewaktu kedua pria tersebut mengeroyok vagina dan analnya dengan hebat. Erangannya berganti dengan jeritan nikmat ketika kedua pria itu semakin kuat menghentakkan penis mereka dalam-dalam. Terpengaruh oleh adegan tersebut, Dicky menancapkan penisnya sedalam-dalamnya ke vagina istrinya. Tangan kiri Anna mengelus-elus klitorisnya sendiri dengan kencang, sedang penis suaminya masuk keluar semakin cepat. Penisku disedot kuat-kuat oleh Anna dan gigitan gemasnya kurasakan pada batang penisku. Remasanku makin kuat di payudara Anna sambil sesekali kuciumi bibirnya.

Pesta Seks Dengan Mantan Pacar - 1

Aku punya teman SMU dulu. Hubungan kami sangat baik, karena kami sama-sama aktif di OSIS. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Australia, sedangkan aku, karena keadaan ekonomi yang pas-pasan, puas menamatkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah. Setelah lulus, aku bekerja di Jakarta. Entah suatu kebetulan atau bukan, saat bekerja di salah satu perusahaan swasta, aku bertemu kembali dengan Anna, yang bekerja di perusahaan rekanan perusahaan kami. Kami bertemu waktu ada penandatanganan kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan tempatku bekerja. Kami pun kembali akrab setelah tidak bertemu sepuluh tahun. Ia masih tetap cantik seperti dulu. Dari ceritanya, aku dapatkan informasi bahwa ia memperoleh master di bidang marketing. Selain itu, sama sepertiku, ia telah tiga tahun menikah, suaminya orang Jawa Timur, tetapi mereka belum dikaruniai anak; sedangkan aku ketika itu masih lajang. Usai kerja, kami suka pulang bareng, sebab rumahnya searah denganku. Kadang-kadang jika ia dijemput suaminya, aku ikut numpang mobil mereka.

Aku tak pernah terpikir kalau temanku Anna memiliki suatu rahasia yang suaminya sendiri pun tak pernah tahu. Suatu ketik – kuingat waktu itu hari kamis – aku ikut pulang di mobil mereka, kudengar Anna berkata pada suaminya,